Bila Aku Harus Sabar, Maka Itu Hanya Demi, Karena, dan Untuk Ibu

Paling sebal bila ada orang yang merasa ia tahu dan mengenal kita luar dalam, kadang-kadang lebih dari diri kita sendiri. Paling sebal bila ada orang yang merasa ia lebih suci dan sibuk menasehati kita, padahal di dunia ini mana ada orang yang sempurna, dan tentunya ia sendiri juga penuh dengan cela. Paling sebal bila ada orang yang merasa paling benar sendiri, sudah diingatkan tapi malah merasa harus menang dan menang terus. Paling sebal bila karena semua hal tersebut di atas, lantas terciptalah sebuah konsep universal mengenai “kamu” dan bagaimanya seharusnya “kamu” menjadi lebih baik, berdasarkan loncatan analogikanya.

Tapi paling sebal bila seluruh konsep komunikasi kita nggak nyambung dengan lawan bicara kita. Meski sama-sama ngomong bahasa Indonesia, tetap saja yang satu ke arah Tangerang, satunya lagi ke Bandung. Repotnya lagi bila sudah dipenuhi dengan emosi, lalu merasa lebih tua, yang bisa diterjemahkan menjadi: aku lebih bijak, lebih penuh pengalaman batin dari padamu, nak, wahai! Jadi dengarkanlah diriku. Maka aku benar dan kamu tidak. Maka aku suci dan kamu bukan. Maka aku absolut dan kamu…… (tequila? JD? hehehe…).

Paling sebal lagi bila orang tersebut tiba-tiba dihadapkan pada cermin dan ia menyadari ia salah langkah tetapi tarian sudah kadung berjalan dan ia harus berjinjit dan menari seakan-akan ia benar. Lantas sibuk mengatur koreografi sendiri yang menyebabkan seluruh ritme kehidupan kacau balau. Hanya karena ia. Lantas untuk menutupi rasa malunya ia tertawa: “HAHAHAHAHA…..” dan membalikkan cermin itu kepada kita dan bertanya “ADA APA DENGANMU?”. Saat kita telah menghentakkan tangan kiri untuk meloncat ke babak berikutnya, ia tertatih-tatih menyusun siasat baru supaya bisa tetap ikut di dalam tarian kita, berharap ia tetap berarti.

Aku mengalami hari yang berat. Tiga hari tidak tidur, panik mempersiapkan presentasi terbesar, di hadapan pembesar, di dalam ruangan besar. Lantas SMS itu meluncur masuk, diforward oleh mama, membuka jendela ke masa lalu. Aku marah karena khawatir konsentrasi pecah. Namun ketika presentasi usai dan lampu dipadamkan, kubaca lagi kata demi kata, dan kutemukan lembar-lembar makna di balik setiap kata.

Kutanyakan pada si empunya kata-kata. Kenapa? Kenapa koreografi hidup dikacaukan? Namun karena ia sedang sibuk menyiapkan tarian terbesarnya sambil masih terlalu sibuk menari, ia tak sadar bahwa ia memasuki panggung acara yang lain dan menyebabkan sang sutradara terhina.

Kuminta agar ia kembali kepada dirinya sendiri, namun bagai bola salju ia menggelinding makin cepat dan menghantam semua yang ada di dekatnya.

Aku kembali pada ibunda dan bertanya bolehkah? Bolehkah kunyalakan perapian agar bola salju meleleh dan ia sadar bahwa ia hanya sebentuk wortel yang ditempelkan di sebuah benda putih besar yang rapuh? Bolehkah kunyanyikan lagu mengenai matahari kepadanya agar ia sadar bahwa tanpa semua itu, ia bukan realita? Kukatakan mungkin ia dendam pada dunia karena ia hanya berdiri menatap dari balik jendela, aku menari di dalam ruangan penuh lampu kerlap-kerlip dengan kawan-kawan yang cantik, sementara ia kedinginan dan sendiri, sampai menganggap bahwa dirinya nyata. Kukatakan mungkin sudah seharusnya kusadarkan bahwa ia memang tidak nyata.

Ibu mengatakan jangan. Ibu mengatakan untuk generasi papa mama telah melewati titik kulminasi dan mendekati garis akhir. Tarian tetua harus makin cantik, agar bila mati dikenang kebaikan dan keindahannya. Bahkan bila mati pun, kita membutuhkan orang untuk mensholati, mengkafani, mengubur, dan menyanyikan lagu terakhir. Yang muda menarilah, tetaplah berpegangan tangan dengan kerabat karena merekalah yang akan menahan dirimu bila kakimu tersandung agar kamu tidak jatuh.

Demi ibu dan hanya untuk ibu, kuhentikan teriakanku. Aku tak protes lagi. Aku memilih tetap menari. Bersama ibu dan duniaku sendiri.

Manusia salju boleh mencoba mengintip duniaku. Toh ia tak akan mengerti. Karena itu ia kumaafkan. Karena ia hanya air dan wortel. Tak lebih.

Jadi ia boleh mendongeng kepada mereka yang mau mendengarkannya. Toh sebentar lagi matahari bersinar. Dan hanya aku yang menari.

Speak Your Mind

*

To help prevent spam, please answer the match challange: *

CommentLuv badge