Closure

Jalan toll dalam kota macet total jam sembilan malam, semua mobil merambat pelan. Aku menoleh ke kiri, menatap deretan gedung yang berjejer manis dan melihat sebuah signage besar, berlatar belakang putih dengan tulisan biru. Sepuluh detik aku terpaku, dan terkejut ketika mobil di belakang mengedipkan lampu besarnya. Melaju pelan, aku meraih handphone dan menelepon sebuah nomer.

Deringan pertama langsung diangkat, dengan suara berat dan resmi. Ia menyebutkan namanya. “Hai,” kataku.
“Carmen, my lady” katanya dan aku menahan napas sejenak. Ia masih ingat suaraku. Nada suaranya drastis berubah santai.
“Masih di kantor?”
“As you know kan,” katanya. “Lagi di mana?”
“Jalan. Macet.”
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Jam segini?” suaranya menahan geli. Dan aku terlempar ke tiga tahun lalu ketika ia selalu kebingungan melacak jejakku. Biasanya ia masih di kantor ketika aku sudah meloncat ke tempat lain, bersama Yola, or Jeany.
“Iya, capek.”
“So,” kudengar suara-suara di belakangnya, sahut menyahut, berpamitan pulang. “What’s up?”
“Lunch yuk,” kataku.
“Ayo. Kapan?” sahutnya cepat.
“Terserah. Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan.”
“Oh ya? Apa itu?”
“See you at lunch.” Tak kuhiraukan sejuta pertanyaan yang terlontar setelah itu.

Tapi waktu berlalu cepat tanpa ada konfirmasi apapun, sampai tiba-tiba aku mendapat email darinya. “I just cleaned up my emails, I’d been away for training for 2 weeks, and found your email from 2 weeks ago. I don’t know what to say….”. Lengkap dengan icon muka sedih. Aku bahkan lupa apa yang kutulis, sehingga ku-scroll down layar Dell-ku, dan membaca lagi email yang kukirimkan padanya dua minggu lalu. Lalu tertawa sendiri. Ia bahkan tak sudi mengucapkan kata maaf. Tak sudi mengakui bahwa kata-katanya seringan udara, bisa dirasakan namun tak bisa digenggam. Manusia tak pernah berubah, bahkan setelah tiga tahun.

Ia meneleponku sorenya. “Kamu mau kemana?”
“Meeting.”
“No, silly. Di email, kamu mengatakan selamat tinggal. Kamu katakan bahwa kamu ingin mengucapkannya langsung di depanku. Kamu katakan kamu akan pergi jauh. Meninggalkan Indonesia.”
“Yeah.”
“Ke mana?”
“Well…” aku mengangkat kepala, dan asistenku memberi tanda bahwa tamu-ku telah tiba dan menunggu di ruang meeting. Ia merasakan ketidak sabaranku, dan menawarkan untuk bertemu. Kulirik calendarku yang penuh warna-warni janji, dan kukatakan padanya bahwa aku hanya bisa meluangkan waktu minggu sore.
“OK,” jawabnya. “See you hari minggu.”

Aku tak mengatakan apa-apa. Aku tak yakin ia akan menepatinya. Ia punya sejuta janji padaku dulu, dan tak satupun ia tepati. Tapi di hari minggu ia meneleponku, mengatakan ia sudah ‘on the way’. Dua puluh menit kemudian ia meneleponku dan mengatakan ia sudah di lobby. Aku terkejut melihatnya, bobotnya turun drastis, kembali ke bentuk ideal. Nampaknya ia mulai teratur lagi mengangkat beban, bicepsnya menyembul dari polo shirtnya, dadanya nampak membayang kuat. Namun senyumnya masih sama, matanya masih sama, dan ia menatapku dengan pandangan yang sama dengan tiga tahun lalu.
“Hai,” katanya. Ia tidak menjabat tanganku. Tidak cipika-cipiki. Hanya berdiri sangat dekat, sehingga aku harus menengadah untuk mencari matanya.
“Hai,” kataku. Ia tersenyum, “Been a long time.”
Aku mengangguk, “Yeah.”

Setelah makan, kami pindah ke sebuah cafe kecil dengan empat sofa berhadapan dan meja rendah. Ia memilih duduk di sebelahku, meskipun ada dua kursi kosong di depanku.
“So, what’s up?” tanyanya, tanpa ijin langsung menyendokkan sepotong tiramisu-ku ke dalam mulutnya.
Samar mencium aroma Armani-nya, tanpa suara kutunjukkan jari manisku. Ia menatapnya, dua menit, tanpa suara. Mengunyah tiramisunya pelahan. Menelannya pelahan. “I’m getting married,” kataku pelan, setelah tanpa daya menunggunya bereaksi.
Kulirik, ia hanya menatap jari-jariku tanpa ekspresi. Berlian di jari manisku berkilau indah di bawah cahaya lampu.
“Sudah kuduga,” tukasnya pelan.
“How?”
“I just knew,” katanya, lalu menoleh ke arahku tajam. “So who’s the lucky guy?”

Aku melirik jam tangan, kukatakan padanya bahwa ia punya 15 menit untuk bertanya apa saja. 15 menit itu dihabiskannya dengan melontarkan 3 pertanyaan, selebihnya kami banyak diam. “Giliranku setelah ini,” aku tersenyum. “Aku punya 15 menit tanya jawab.”
Ia memperbaiki letak duduknya, dan lagi-lagi Aqua di Gio-nya menggelitik hidung. “Shoot,” katanya sambil tersenyum.
“Giliranmu kapan?”
“Aku? Menikah? Tahun ini.”
Jantungku berhenti berdetak, “Dengan siapa?”
Ia menggeleng, tersenyum, “Tadinya sih rencananya dengan kamu.”
“Whattt?” Ia tertawa melihat reaksiku, senyumnya selalu seperti sebuah teka-teki yang menunjukkan bahwa ia tahu lebih banyak daripada yang ingin ia ceritakan. Aku benci senyum itu. Aku pernah berada di bawahnya, kehilangan di dalamnya, dan harus keluar dari perangkapnya dengan susah payah. Sisa luka itu masih terbuka, dan aku tak ingin menyentuhnya, tak ingin mengingat betapa sakitnya.
“Well, to be honest, I feel like it’s the time. To settle down. House with white fence. Baby next year. You know, all those stuff,” katanya.
Aku menggeleng pelan, “Amazing.”
“Yeah, amazing, karena aku belum menemukan orangnya.”
Aku tertawa, ia mengucapkannya denga santai, seperti sebuah deadline presentasi yang menentukan hidup mati perusahaan tapi who cares, itu bukan perusahaan kita sendiri.
Dengan pelan ia meninju lenganku, “You’re doing good, girl, you look happy.”
“I’m happy,” kataku, mengangguk pelan. “I am.”
“Good,” ia tersenyum. “Dan kalau semua ini tidak berjalan lancar, kamu selalu bisa pulang ke Indonesia.”
“Heh?”
“Well, ada yang punya target menikah tahun ini, kan?” ia meringis. Selalu begitu, aku tak pernah bisa menduga apakah ia serius atau main-main. Aku tak bisa tahu rahasia hatinya. Bicara dengannya seperti harus punya kemampuan membaca seribu tanda di baliknya, mengurai makna yang tersirat. Bicara dengannya melelahkan.

Ia mengantarku berjalan ke lobby.
Aku merasakan setitik air membasahi rambutku. “Mau hujan.”
Ia hanya berjarak lima senti dariku, bejalan pelan. Kudengar ia mengatakan, “I’m gonna miss you.”
Aku menengadah, “Apa? Gerimis? Belum deh, kayaknya.”
Kepalanya menoleh ke arahku. Senyumnya mengembang lagi. Aku menunggu, tapi ia tidak mengulangi kata-katanya.
“Take care,” katanya di depan pintu lobby. Matanya sekelam malam. Ia tidak menjabatku. Tidak cipika-cipiki. Hanya berdiri sangat dekat sehingga aku bisa… Lalu berbalik, berjalan ke arah mobilnya.

Aku mengangguk pelan, “take care too.”

Mungkin tidak sempurna, tapi telah kuucapkan selamat tinggal kepadanya. Tiga tahun lalu kami selesai secepat kami memulainya. Namun ada yang tertinggal, entah apa. Sampai saat ini. Telah kuucapkan selamat tinggal kepadanya.
A closure.

 

Comments

  1. cammomile says:

    Hi Anita,
    Been there Done that…
    Me setuju banget sama kamu…
    Tulisan ini mengingatkan aku pada closure aku yang dulu2… 😉
    I am grateful to do a closure….

  2. Hello Cammomile, thanks for stopping by. Yeah, hard thing to do but to me it was necessary :)

Speak Your Mind

*

To help prevent spam, please answer the match challange: *

CommentLuv badge